Kamis, 16 April 2009

Penggemukan Sapi Potong

Pemilihan Bakalan
Pemilihan sapi bakalan yang kurang baik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan berat badan harian (PBBH) dan lama penggemukan. PBBHnya lebih rendah dan waktu penggemukan lebih lama untuk mencapai berat badan yang dibutuhkan pasar.
Ciri-ciri bakalan:
1. Performans eksterior tubuh
a.Mempunyai konfirmasi tubuh yang baik untuk sapi potong : badan panjang, dada lebar dan dalam.
b.Moncong pendek dan mulut lebar.
c.Turgor kulit baik, apabila ditarik cepat kembali
d.Bulu halus
e.Kondisi badan sedang s/d kurus
2. Umur 1,5-2,0 tahun
3. Berat badan awal berpengaruh terhadap pencapaian PBBH dan berat badan (BB) yang optimal pada akhir penggemukan.
a.BB 200 – 250 kg penggemukan 5 bulan
b.BB 250 – 300 kg penggemukan 4 bulan
c.BB 300 – 350 kg penggemukan 3 bulan
d.BB 350 – 400 kg penggemukan 3 – 4 bulan
e.BB > 400 kg penggemukan 3 bulan
4. Sehat : mata berbinar/ bening , lincah dan agresif.

Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi potong yang digemukkan perlu memperhatikan kebutuhan gizi ternak disesuaikan dengan Berat Badan (BB) dan PBBH yang hendak dicapai. Kebutuhan gizi ransum untuk sapi yang digemukkan membutuhkan ransum dengan Bahan Kering (BK) sebanyak 2,6-3% dari BB dengan kualitas Protein Kasar (PK) sebesar 12-15% dan Serat Kasar (SK) >15%. Perbandingan antara hijauan dengan konsentrat dapat dipenuhi 75% (hijauan) : 25% konsentrat; 50%: 50% atau disesuaikan dengan kondisi ketersediaan dan kualitas hijauan setempat.
Sumber pakan yang digunakan untuk penggemukan sapi potong disesuaikan dengan potensi pakan yang banyak di daerah tersebut yang dikombinasikan dengan sumber limbah industri pertanian seperti dedak, gamblong, ampas tahu, bungkil kelapa dsb. Adapun bahan pakan yang dapat digunakan didalam penyusun ransum untuk penggemukan sapi adalah
sbb:
1. Pakan Hijauan
a.Pakan hijauan adalah sumber pakan yang mengandung serat kasar tinggi
b.Hijauan pakan ternak : rumput lapangan dan rumput kultur ( Setaria, Gajah, Raja dll). 
Pemberian hijauan segar ini sebesar 10% dari BB atau 1 kg hijauan kering = 4 -5 kg hijauan segar.
c.Limbah pertanian (jerami padi, jagung, dll) diberikan sebanyak 6 kg BK.
Leguminosa yaitu jenis hijauan kacang-kacangan seperti daun lamtoro, gamal, turi, dll. Pemberian leguminosa 20% dari total kebutuhan hijauan.

2. Pakan penguat/konsentrat
Konsentrat adalah sumber pakan yang mengandung serat kasar < 12%
a. Pakan buatan pabrik (pakan komersial).
b. Hasil pertanian dan limbah industri pertanian : dedak, empok, jagung, polar, ketela pohon,
gamblong, ampas tahu, bungkil kedele, bungkil kelapa, ampas kecap, bungkil kapok dll.
Penggunaan limbah industri pertanian maximal untuk bungkil kelapa 20%, bungkel kedele 25%,
dedak padi 100% dari konsentrat.

3. Pakan tambahan (Feed aditive) :
a.Vitamin dan mineral. Pemberian meneral 1-1,5% dari konsentrat (dicampurkan dalam konsentrat). Mineral dapat dibuat dari tepung tulang dan kapur masing-masing diberikan 0,5% dari konsentrat, sebaiknya ditambah pula garam dapur sebanyak 1%.
b.Garam dapur sebanyak s/d 1% dalam konsentrat.
c.Probiotik: merupakan mikroba fermentasi untuk membantu kecernaan pakan berserat dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan atau meningkatkan kandungan gizi pakan.

Pola penyusunan ransum
Pakan penguat dapat disusun sendiri oleh peternak dari hasil ikutan industri pangan yang banyak terdapat disekitar lokasi penggemukan. Hasil penelitian terhadap ransum dari hasil ikutan industri pada sapi hasil silangan ( FH X Bali) dan (Brown Swiss X PO) yang sedang tumbuh (umur 7-12 bulan)) memperoleh PBBH sebesar 0,49-0,62 kg/ekor/hari. Hal ini menunjukan bahwa kandungan PK konsentrat yang setara (15%) dengan komposisi bahan yang berbeda memberikan respon yang berbeda terhadap pertumbuhan ternak.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar